23 July 2017

Budget Trip Japan - Day 1

Akhirnya impian untuk pergi ke Jepang setelah beberapa tahun cuma bisa di lihat di layar televisi dan denger cerita dari teman terwujud juga. Bermula dari adanya tiket promo di Air Asia dan kebetulan pas searching tanggal nya pas dengan availability saya, akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk next trip ke negeri Sakura ini. Harga tiket promo untuk perjalanan dari Jakarta - Tokyo (transit Kuala Lumpur) dan untuk pulang nya kami memutuskan dari Osaka - Jakarta (transit Kuala Lumpur) adalah sebesar 4 jt Rupiah (tanpa bagasi dan insurance). Sebenarnya di bandingkan dengan promo tiket pada saat event Japan Travel Fair, ternyata gak murah-murah amat sih, hahaha... Jadi pengalaman aja kalau incer tiket pada saat travel fair saja, karena sekarang Air Asia tidak semurah yang dibayangkan lagi. Belum lagi kalau tambah bagasi dan insurance, boom... harga meledak sampai 6jt++...

14 April 2017, saya beserta istri dan teman berangkat dari Jakarta naik Air Asia penerbangan jam 8.35 pagi. Seperti biasa kalau penerbangan pagi jarang delay dan kami tiba di Kuala Lumpur sekitar jam 11.30 siang waktu setempat. Penerbangan berikut nya adalah jam 14.40 waktu Kuala Lumpur. Untuk urusan ke Jepang, sepertinya ketat sekali karena info dari beberapa teman yang sudah kesana sebelumnya bahwa Jepang adalah negara yang sangat menghargai waktu. Telat seperti suatu hal yang tabu. Maka penerbangan dari Kuala Lumpur ke Tokyo juga tidak ada delay dan aman sesuai waktu yang sudah di informasikan. (Pemeriksaan khusus ke Jepang entah kenapa menurut saya lebih ketat dibandingkan negara lain ketika mau masuk ruang tunggu.. Saran saya 2 jam sebelum keberangkatan sudah boleh standby di waiting room). Setelah 6 jam lebih perjalanan dimana kaki sudah pegal karena space yang kecil (yah namanya juga naik budget airlines jadi di nikmati saja, hahaha), akhirnya kami tiba di bandara Haneda sekitar jam 22.00 waktu Jepang. Karena sudah malam dan kami mengejar kereta malam (sebagai informasi, kereta terakhir di Jepang sekitar jam 12 malam dan biaya taksi nya muahal pake banget nget nget...) akhirnya kami gak foto-foto lagi. Sempat kaget ketika melihat antrian di imigrasi panjang banget, tapi untung nya karena petugas jepang cukup profesional dan pelayanan sangat rapi, sekitar jam 22.40 semua member selesai dari imigrasi dan kami langsung kayak kesetanan lari menuju statsiun metro yang ada di area bandara. 

http://www.hyperdia.com/


Kebetulan ada teman yang kesana sebulan sebelumnya jadi kami tidak perlu antri tiket lagi karena sudah titip beli 5 kartu Suica. Jika belum ada kartu ini (dan kemungkinan kalau malam tidak ada konter tiket yang jual lagi karena tidak terlihat), maka harus beli tiket sekali jalan. Untuk tahu kereta yang akan jalan dalam waktu dekat, teman-teman dapat akses hyperdia.com untuk mengecek jadwal kereta dan jenis kereta nya. Teman-teman tinggal mengetik dari mana dan akan menuju kemana, kemudian di sesuaikan waktu nya. Jika sudah membeli JR Pass dan kebetulan di aktifkan di stasiun kereta di bandara (bagi yang tiba di bandara pagi atau siang) dan mau berhemat, maka bisa klik more option pada hyperdia dan memilih Corp yang diaktifkan hanya yang JR saja. Btw walaupun JR mengcover seluruh Shinkansen JR, namun khusus Kereta Nozomi, Mizuho dan Hayabusa tidak dicover yah. Jadi hati-hati pada saat memilih kereta. 

http://www.haneda-airport.jp/en/access.html


Untuk menuju pusat kota ada 2 jalur yang di lalui beda kereta. Untuk JR Pass bisa memilih Keikyu Line. Sedangkan Tokyo Monorail di handle oleh perusahaan berbeda dan hanya bisa menggunakan Suica atau tiket sekali jalan. Karena saya dan teman-teman belum mengaktifkan JR Pass (sengaja memang mau diaktifkan pada hari ke 3 saja), dan sudah memiliki Suica, kami memilih menggunakan tokyo Monorail menuju Hamamatsucho.


Muka Ngantuk Tapi Senang

Perjalanan ke Hamamatsucho hanya sekitar 20 menit dan kereta plong. Makanya masih sempat foto dan masih bisa senyum walau sudah ngantuk (mungkin faktor usia, padahal travelling dulu sampai jam 1 atau 2 pagi masih seger, hehehe).. Neraka baru dirasakan ketika dari Hamamatsucho mau melanjutkan perjalanan ke penginapan kami di Ueno dimana jalur yang dilalui adalah menggunakan Yamanote Line (digambar diatas adalah gambar loop bulat bewarna hijau). Benar-benar tidak disangka, sudah malam banget dan mau jam 12, namun penumpang nya buejibun bener.. Akhirnya kami merasakan naik kereta seperti yang di lihat di film-film Jepang dimana petugasnya mendorong paksa para penumpang untuk masuk supaya pintu bisa di tutup (tapi sepertinya kereta di Indo juga udah mulai ganas kayak gitu sih).. Mau gerak saja susah mana orang Jepang kalau padet gitu males pegang pegangan kereta, sehingga ketika kereta belok maka mereka jatuhin diri aja ke samping, toh pikirnya ada yang nahan. Dan saya yang nahan karena sambil bawa koper, mau mampus rasa nya nahan badan orang sambil jaga koper. Ampun DJ dah bener-bener.. Ternyata pada ngejer kereta terakhir makanya rame gitu.. Belum lagi orang Jepang tuh kalo malam suka ke bar minum-minum dulu, makanya bau bir gitu deh..


Pelajaran selama naik kereta di Jepang:
  1. Jam Rush Hour adalah jam 7-9 pagi, 5-7 sore, dan 11 malam keatas
  2. Kalau sudah masuk jam Rush Hour, jika gk mau sempit-sempitan, hindari Yamanote Line
  3. Kalaupun Rush Hour dan masuk Yamanote Line selama tidak bawa koper masih mendingan. Cukup geser jangan dekat dengan pintu, tapi masuk ke tengah area yang ada kursi tempat duduk. Gak usah takut gak bisa keluar kalaupun rame, karena orang Jepang baik-baik kok.. tau kalau ada yang mau keluar, akan di bantu dan di beri jalan (nah ini yang saya heran, kenapa tiba-tiba ada ruang kosong yah kalau mau keluar, padahal kadang gk ada yang keluar di stasiun, hehehehe..)

Dikarenakan naik pesawat malam, sampai di penginapan sudah malam dan badan sudah capek setelah desak-desakan di kereta, kami langsung beres-beres dan tidur supaya besoknya bisa langsung bangun pagi dan eksplore Tokyo.

Pelajaran lainnya kalau mau ke Jepang:
  1. Jangan lagi naik pesawat yang sampai di Jepang malam hari. Sangat beresiko tidak dapat kereta. Kalaupun dapat kereta, potensi kena rush hour. Jika ketinggalan kereta terakhir, pilihan nya adalah tidur di bandara dan mengejar kereta besok pagi atau naik taksi (siap-siap merogoh kocek sampai dengan 3 juta untuk 1 kali perjalanan dari Haneda ke Tokyo). Kalaupun naik bus, hanya sampai stasiun besar seperti Shinjuku atau Shibuya. Dan harganya juga gk murah bisa sampai dengan ratusan ribu. Bayangkan kalau penginapannya tidak di Shinjuku atau Shibuya.
  2. Waktu sudah habis 1 hari. Adik saya yang sudah berangkat sehari sebelumnya (berangkat malam jam 11 atau jam 12 malam dan sampai di Jepang jam 9 pagi) sudah jalan-jalan duluan di sekitaran kota Tokyo dan sudah kirimin gambar foto nya pula ke saya.
  3. Di ingatkan lagi in case lupa, hindari Yamanote Line ketika Rush Hour. Apalagi kalau ada orang tua yang ikut travelling, kasian banget..

To be continued Budget Trip Japan - Day 2 (Coming Soon)

01 July 2017

Jalan - Jalan ke Jepang

Japan (https://www.jnto.go.jp/eng/)

Halo teman-teman, kali ini saya mau sharing informasi perjalanan liburan saya dan keluarga ke Jepang (Tokyo, Osaka dan Kyoto) pada tanggal 14 - 23 April 2017 kemarin. Kebetulan baru sempat di tulis di halaman blog ini nih, hehehe... Sebelum sharing perjalanan saya, ada beberapa hal penting yang perlu di ketahui dan persiapkan ketika kita ingin travelling ke Negeri Sakura ini, antara lain:

1. Waktu yang tepat untuk pergi ke Jepang
2. Tiket Pesawat
3. Tempat Penginapan selama di Jepang
4. Visa Jepang
5. Transportasi
6. Uang Jepang
7. Wifi Modem Rental

Nah, saya coba bahas satu-satu yah...

1. Waktu yang tepat untuk pergi ke Jepang
Jepang adalah negara dengan 4 musim (Semi, Panas, Gugur, Dingin). Tentu nya kita perlu menyiasati waktu yang tepat untuk kita pergi ke Negeri Sakura ini. Di Jepang, musim semi (awal Maret - April) dan musim gugur (awal September - November) biasanya merupakan High Season di Jepang. High Season maksudnya adalah waktu dimana suatu negara paling banyak di kunjungi oleh turis mancanegara. Tentu nya ini adalah waktu yang paling tepat untuk berpergian ke Negara ini. Para turis mancanegara datang ke Jepang pada musim semi untuk menikmati keindahan Sakura Blossom dan di musim gugur, dedaunan dengan warna warni (perpaduan dedaunan bewarna merah, kuning dan hijau) yang Indah. Selain itu cuaca tidak terlalu dingin dan tidak panas. Namun dikarenakan periode High Season, tempat-tempat wisata di Jepang sangat ramai akan turis. Harga tiket pesawat dan penginapan juga mahal.

Left: Sakura Blossom (http://wenda.16fan.com), Right: Vivid Hues of Autum Leaves (http://news.softpedia.com)

Sedangkan pada saat musim panas dan musim dingin bisa dikategorikan sebagai Low Season. Kemungkinan hujan yang sangat tinggi pada periode ini bisa merusak liburan teman-teman sekalian dan udara dingin yang menyengat pada saat musim dingin tentu nya berpotensi menjadi suatu kendala bagi teman-teman yang tidak suka cuaca dingin yang ekstrim. Note: Musim Dingin, Khusus prefektur (atau biasa kita kenal dengan sebutan propinsi kalau di Indonesia) Hokkaido merupakan High Season dikarenakan Hokkaido sangat terkenal dengan Ski Resort nya.


2. Tiket Pesawat
Jika teman-teman sekalian adalah budget travellers, maka berburu tiket pesawat low cost adalah salah satu yang wajib untuk dilakukan. Biasanya penerbangan seperti Air Asia sering ada promo tiket murah ke Jepang. Tentu nya sangat sulit berburu tiket promo dikarenakan slot tiket yang sangat terbatas dan belum lagi sulitnya akses web site online untuk pembelian tiket Air Asia (sering time out atau masuk antrian uiy... hehehehe....). Untuk periode low season, teman-teman bisa mendapatkan tiket Pulang-Pergi seharga 1,5 Juta sampai 2,3 Juta Rupiah.. Sedangkan untuk periode High Season, tiket promo Air Asia Pulang - Pergi ke Jepang berkisar antara 3,5 Juta sampai dengan 5 Juta Rupiah. Btw harga ini belum termasuk Asuransi dan Bagasi yah...

Opsi lainnya jika males pantengin promo budget airlines (yang akan saya lakukan next time dikarenakan sebelumnya kami berburu tiket promo Air Asia) adalah beli tiket pada saat Japan Travel Fair. Untuk mengetahui kapan event ini berlangsung, dapat di cek di website Japan National Tourism Organization (JNTO) disini. Waktu itu kami datang ke event ini dan ada teman yang beli tiket pada saat event JNTO, harga nya cukup bersaing dengan budget airlines. Untuk penerbangan sekelas ANA, JAL, SQ dan Garuda Indonesia, harga berkisar antara 4 Juta sampai dengan 8 Juta Rupiah untuk penerbangan Pulang-Pergi. Harga ini tentunya sudah termasuk dengan asuransi dan bagasi lho.. (hmmm dihitung-hitung sih lebih murah dari budget airlines, wkkwkwkwkw...).

Jika teman-teman melakukan penerbangan ke Tokyo, juga harus memilih bandara tujuan antara Narita atau Haneda. Narita lebih jauh dari Tokyo karena letaknya sudah di luar kota Tokyo. Sedangkan kalau Haneda hanya 30-40 menit dari kota Tokyo. Kalau saya sih prefer Haneda, selain menghemat waktu untuk ke pusat kota, Haneda lebih bersahabat bagi traveller menurut saya. Selain banyak gerai toko di Haneda (bahkan turis bisa melakukan shopping traveller di bandara Haneda), bagi night traveller yang sampai di bandara Haneda dan sudah tidak ada transportasi ke kota lagi, tidur di Bandara Haneda juga lebih nyaman lho...


3. Tempat Penginapan Selama di Jepang
Jepang merupakan negara dengan biaya penginapan cukup mahal, bahkan untuk penginapan sekelas hotel berbintang 1 atau 2 sekalipun. Kebetulan karena kami adalah budget traveller, maka kami mengakali penginapan dengan memesan rumah / apartemen di Jepang melalui jasa Airbnb. Teman-teman dapat melakukan registrasi di website Airbnb dan memilih lokasi yang di inginkan. Di Airbnb, kita dapat melakukan filter apakah mau tinggal di properti secara sharing atau private (tidak dengan orang asing lainnya). Tentunya harga berbeda :D.. Waktu itu kami tinggal di properti yang private (karena tidak terbiasa sharing dengan orang lain), dan harga yang di dapatkan lumayan murah, berkisar antara 1,2 Juta sampai dengan 1,5 Juta per malam untuk sharing 7 orang. Jatuhnya murah banget kan, hehehehe... Jenis properti di Airbnb ini umumnya adalah apartemen atau rumah pribadi, sehingga selama kita tinggal tidak ada fasilitas di bersihkan kamar-nya setiap hari dan tidak di sediakan mineral water (air keran di Jepang bisa di minum sih,  tapi sebelumnya harus konfirmasi ke pemiliknya dulu, karena biasanya ada keran air yang cuma untuk mandi dan cuci piring). Dan juga pada jam 7 malam keatas sebaiknya tidak ribut (takutnya dilaporin polisi pula, nanti jadi urusan ribet kan)... Tapi kelebihan tinggal di properti melalui Airbnb ini adalah fasilitas seperti kompor, microwave, mesin cuci, kulkas (jika tersedia), dapat kita gunakan. Oh iya, untuk pemesanan via Airbnb ini, kadang kali ada pemilik properti yang mewajibkan calon penyewa untuk memperkenalkan diri dan menceritakan traveller seperti apa calon penyewa ini (pakai bahasa inggris yah).. Namun jika teman-teman merasa terkendala dengan ini, dapat dilakukan filter opsi instant book (tanpa perlu persetujuan pemilik properti, dapat langsung sewa properti seperti hal nya booking hotel).

Jika teman-teman merasakan agak kurang terbiasa atau kurang nyaman melakukan pemesanan melalui Airbnb, maka website seperti Agoda, Hotel.com, tripadvisor atau lainnya dapat menjadi opsi. Namun saya lebih suka dan terbiasa dengan Airbnb. Hehehehe...


4. Visa Jepang
Untuk pemegang paspor Indonesia, kita diwajibkan untuk melakukan permintaan Visa sebelum ke Negeri Sakura. Apa itu Visa? Visa adalah sebuah rekomendasi dari Kantor Kedutaan Besar negara yang bersangkutan yang di berikan untuk calon turis untuk dapat masuk ke suatu negara yang di tuju. Dalam hal ini, untuk permintaan Visa Jepang dapat dilakukan di Konsulat Kedutaan Besar Jepang (Untuk lokasi dapat di cek disini dikarenakan beda kota beda lokasi, di sesuai kan dengan lokasi tempat tinggal teman-teman sekalian). Untuk mendapatkan Visa, biasanya ada biaya yang harus dibayar, dan biaya untuk mendapatkan Visa untuk tiap-tiap negara itu berbeda. Untuk Visa Jepang, harga nya adalah sebagai berikut: 

Harga Permohonan Visa Jepang (http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html)

Kabar gembira untuk pemegang paspor elektronik (e-Paspor), Pemerintah Jepang memberikan kemudahan untuk permintaan Visa. Bagi pemegang e-Paspor, kita hanya perlu apply Visa Waiver di Konsulat Kedutaan Besar Jepang secara gratis.. tis.. tis... Seru kan kalau sudah punya e-Paspor? Makanya kalau paspor teman-teman sudah mau expired, sebaiknya sih disarankan langsung bikin e-Paspor saja. Memang harganya 2x lipat pasport biasa, namun nantinya (feeling saya, hehehehe) bakal banyak negara yang bisa Visa Waiver (doa-doa aja Eropa atau Amerika, hahahaha ngarep dot com).. Untuk membuat e-Paspor dapat di cek disini.

Syarat-syarat dokumen yang harus dipenuhi untuk melakukan permohonan Visa untuk pemegang paspor biasa, adalah sebagai berikut:
  • Paspor yang masih berlaku minimal 6 bulan pada saat waktu keberangkatan ke Jepang
  • Mengisi Visa Application Form (bisa di download disini)
  • Pas Photo 4,5 cm x 4,5 cm background putih (siapkan saja sebanyak 3-5 lembar)
  • Foto Kopi KTP (siapkan saja sebanyak 2-3 lembar)
  • Foto Kopi Tiket Penerbangan (Pulang - Pergi)
  • Foto Kopi bukti pemesanan hotel / penginapan (Jika menggunakan hotel / sewa apartemen)
  • Informasi alamat tempat menginap (Jika menginap di rumah teman / saudara)
  • Lembar detail itinerary rencana perjalanan selama di Jepang (berikut contoh dari saya, dapat di download disini)
  • Rekening Koran Bank tabungan 3 bulan terakhir
Sedangkan untuk pemegang e-Paspor cukup langsung ke Konsulat Kedutaan Besar Jepang untuk mengisi form Visa Waiver saja, gak perlu ribet seperti diatas, hehehehe... Umumnya untuk permintaan Visa atau Visa Waiver ini ada kemungkinan bisa terjadi kasus untuk waktu proses lebih lama dari waktu biasanya (1-2 hari kerja) menjadi 3-4 hari kerja. Dan jika diperlukan maka akan ada proses interview (tanya jawab).


5. Transportasi
Kendaraan yang umum digunakan adalah bus dan kereta, karena biaya tarif taksi mahal nya kebangetan (sekali waktu itu kami naik taksi hanya tidak sampai 10 menit, tarif nya 5000 Yen)... Perusahaan bus umum nya adalah JR, sedangkan untuk kereta ada beberapa perusahaan yaitu JR, Subway, Metro. 

Untuk teman-teman yang melakukan travel hanya sekitaran Tokyo, untuk menghemat transportasi dapat menggunakan Suica Card atau Passmo (sejenis kartu prabayar seperti eToll atau Flazz kalau di Indonesia yang dapat di beli di terminal Kereta). Kalau di prefektur lain, nama kartunya berbeda lagi, seperti Kitaca (Hokkaido), ICOCA (di Osaka / Kyoto), manaca (Nagoya), Sugoca (Kyushu), nimoca (Nishitetu), Hayakaken (Fukuoka). Namun kartu-kartu tersebut dapat dipakai di seluruh Jepang kok.. Kartu ini berlaku untuk naik kereta (JR, Subway, atau Metro) di seluruh stasiun kereta (kecuali Shinkansen), dan juga untuk sebagian besar bus di seluruh prefektur Jepang (khusus untuk bus harus di cek di kota yang dikunjungi, karena ada beberapa bus seperti di Kyoto yang tidak menerima pembayaran via kartu). Kelebihan kartu ini selain menghemat waktu untuk beli karcis manual di mesin tiket dan antri beli nya, dapat juga dipakai di gerai toko 7/11 lho, hehehe.... Sebagai informasi tambahan, jika kredit dalam kartu sudah mau habis, maka hanya dapat di top up di prefektur tempat beli kartu tersebut yah. Dan juga ketika pembelian kartu, ada deposit sebesar 500 Yen (ketika membeli kartu, sudah bayar dengan deposit nya). Dan deposit sebesar 500 Yen hanya dapat diambil ketika kartu dikembalikan (lagi lagi hanya dapat di kembalikan di prefektur tempat kita membeli kartu tersebut).

Japan Transportation Card (http://www.jreast.co.jp)

Sedangkan untuk teman-teman yang berencana untuk pindah-pindah prefektur ataupun melakukan daily excursion menggunakan Shinkansen, dapat menggunakan pass khusus yang mengcover Shinkansen sehingga perjalanan menjadi lebih hemat. Beberapa Pass Khusus berlaku untuk Kereta, Shinkansen dan Bus, namun yang paling umum adalah Pass yang dikeluarkan oleh perusahaan JR (hanya berlaku untuk transportasi perusahaan milik JR saja). Jadi sebelum memilih mode transportasi, ada baiknya untuk mengecek apakah jenis kereta atau bus yang di naikin sudah di cover oleh Pass Khusus JR atau belum. Untuk JR Pass ini dapat di beli lebih dulu di kota tempat teman-teman tinggal (saran saya sih beli di JTB atau HIS Travel) dan kemudian nantinya tinggal di ambil dan aktifasi (harus di aktifasi yah) di Jepang ketika sudah tiba disana. Contoh Japan Pass yang versi lengkap (JR Pass) dan dapat digunakan di seluruh Jepang jika sudah diaktifasi, maka akan diberikan pass seperti gambar dibawah ini. Teman-teman tinggal menunjukkan Pass ini ke petugas ketika akan naik Kereta / Shinkansen / Bus perusahaan JR.

Contoh JR Pass yang sudah diaktifasi di Jepang

Ada beberapa jenis Pass dan harga nya berbeda-beda. Jenis pass yang dapat dibeli oleh teman-teman tergantung lokasi prefektur yang ingin di kunjungi. Jika ternyata prefektur yang di kunjungi bervariasi dan tidak di cover oleh 1 jenis Pass, maka saya sarankan membeli JR Pass saja. Namun jika jenis pass yang ingin dibeli oleh teman-teman sudah tercover oleh 1 jenis pass, maka beli saja jenis pass tersebut. Detail region dapat di cek di gambar dibawah ini.

JR Region Pass

Untuk detail kelebihan Pass Khusus dapat di cek disini


6. Uang Jepang
Mata uang negara Jepang adalah Yen. Kurs 1 Yen ketika saya pergi travelling ke Jepang pada tanggal 14 - 23 April 2017 adalah 121 Rupiah. Harga kurs tentunya fluktuatif tergantung kondisi ekonomi. Disarankan sebelum ke Jepang, teman-teman sebaiknya melakukan pembelian Yen terlebih dahulu, karena jika melakukan penukaran di sana, rate yang didapatkan sangat jelek (rugi).. Dan sebaiknya di perkirakan berapa budget yang akan di gunakan disana untuk akomodasi dan shopping, karena Jepang bukan merupakan negara yang friendly dengan kartu kredit. Kartu kredit kita yang jenis VISA / Master sangat sulit sekali digunakan disana. Konon katanya hanya ATM di 7/11 yang bisa digunakan untuk menarik Yen dengan menggunakan kartu debit BCA yang memiliki logo VISA / Master (belum dicoba sih, hehehehe...).

Jenis Yen ada uang kertas dan logam. Untuk pecahan uang kertas adalah bervariasi dimulai dari 10.000, 5.000, 2.000 dan 1.000 Yen. Sedangkan untuk pecahan uang logam adalah 500, 100, 50, 10, 5, dan 1 Yen. Jika melakukan pembelian di Indonesia, kebanyakan money changer hanya menyediakan pecahan 10.000 Yen. Sangat langka money changer memiliki pecahan 5.000 atau 1.000, jadi jangan kaget kalau untuk melakukan pembelian harus genap di puluhan ribu.


Japan Yen

 
7. Wifi Modem Rental
Ini penting sekali, karena begitu kalian mendarat di Jepang, untuk mencari info kereta dan lokasi tempat menginap di perlukan akses internet. Kalau menggunakan data roaming kartu selular Indonesia, akan mahal sekali biayanya. Jadi pastikan sebelum ke Jepang sebaiknya sudah rental Wifi Modem. Untuk rental dapat ke JTB atau HIS Travel (2 ini merupakan agent resmi dari Jepang) ataupun ke travel agent lainnya sesuai selera. Bahkan biasanya ada paketan kalau membeli JR Pass sebanyak x tiket, maka akan gratis modem dipinjamkan. Kebetulan saya waktu itu beli di JTB, untuk setiap pembelian 4 tiket JR Pass maka akan gratis dipinjamkan 1 modem Wifi untuk periode 10 hari dengan kuota unlimited usage.

So sudah siap untuk berangkat ke Jepang? Let's Go.....

Coming Soon - Sharing Perjalanan ke Jepang 14 - 23 April 2017.